Latest News
Gambar tema oleh Kepulauan NTT. Diberdayakan oleh Blogger.
Minggu, 27 Agustus 2017

Perkebunan Kabupaten Manggarai



Kabupaten Manggarai merupakan salah satu Provinsi di Nusa Tenggara Timur dengan luas total 2.642,93 km2 atau 5,42% dari total wilayah Propinsi NTT. Sebagai kabupaten baru yang mempunyai wilayah cukup luas, Manggarai Timur menyimpan potensi yang dapat diandalkan untuk pengembangan sektor pertanian pada skala regional. Pertanian di Kabupaten Manggarai Timur menopang roda perekonomian sangat nyata, tercatat sektor pertanian menyumbang lebih dari 40% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), terutama dari subsektor perkebunan.

      Komoditas unggulan tanaman perkebunan di Manggarai Timur antara lain kopi, cengkeh dan kakao. Bentang alam di Manggarai Timur yang cukup bervariasi merupakan areal yang cocok untuk pengembangan ketiga komoditas tersebut. Wilayah sebaran komoditas kopi untuk Manggarai Timur ada di Kecamatan Borong, Elar dan Poco Ranaka. Hal ini sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Manggarai Timur yakni pusat industri kopi ada di Desa Rengkam (Kecamatan Poco Ranaka). Pusat produksi tanaman cengkeh ada di wilayah Kota Komba, Elar, Sambi Rampas dan Poco Ranaka. Sedangkan Borong, Kota Komba dan Lemba Leda merupakan pusat produksi tanaman kakao.

      Luas areal tanaman kopi di Manggarai Timur mengalami peningkatan, sedangkan produksi mengalami penurunan walaupun tidak terlalu signifikan. Hal ini disebabkan tanaman kopi yang ada masih banyak yang berumur tua dan tidak produktif. Sedangkan tanaman kakao mengalami peningkatan luas areal dan produksi.

      Masalah utama dalam budidaya komoditas unggulan adalah jumlah benih/bibit unggul sehingga pemerintah perlu bekerja sama dengan pusat penelitian perkebunan untuk penyediaan bibit unggul sesuai kondisi di Manggarai Timur. Masalah kedua adalah serangan hama penyakit gugur buah pada tanaman kopi dan penggerek batang pada tanaman kakao. Keadaan ini membuat produksi kopi dan kakao mengalami penurunan. Kegiatan pengendalian Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) di wilayah yang sudah terserang dan melakukan tindakan preventif (sarungisasi buah kakao) dan kuratif bagi daerah yang belum terserang dengan memanfaatkan sistem peraturan karantina, penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) secara maksimal serta meningkatkan kegiatan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT) dan kegiatan penggunaan benih dari varietas tahan PBK yang direkomendasikan Pusat Penelitian Kopi Kakao Indonesia. Langkah sanitasi kebun juga merupakan hal yang cukup mendesak dalam rangka pengendalian hama penggerek batang yang cukup signifikan menurunkan produksi.

      Komoditas kopi, cengkeh dan kakao di Manggarai Timur layak untuk diusahakan karena nilai kelayakan finansial usaha yang positif. Penerimaan usahatani kopi mampu mencapai 5 kali lipat dari biaya yang dikeluarkan untuk budidaya kopi, sedangkan penerimaan cengkeh dan kakao mencapai 3 kali lipat dan 11 kali lipat dari biaya yang dikeluarkan petani. Namun dari segi permodalan, ketiga komoditas dihasilkan dikelola dengan modal yang masih terbatas. Pemerintah pusat dan daeah perlu membuka kemudahan akses permodalan baik dengan bantuan modal dengan bunga rendah ataupun mendorong masuknya investor dan perbankan untuk berkecimpung dalam usaha budidaya.          

     Komoditas kopi, kakao dan cengkeh di Manggarai Timur masih dijual dalam bentuk non olahan serta belum ada sortasi di tingkat petani. Hal ini membuat harga ketiga komoditas tersebut mengalami fluktuasi dan merugikan petani sehingga untuk jangka ke depan perlu dibentuk lembaga penjamin harga di tingkat petani ataupun lembaga pengolahan hasil pertanian. Selain itu, standar mutu produk pertanian semakin tinggi sehingga apabila kelembagaan pemasaran yang baik belum terbentuk maka semakin sulit produk pertanian dari Manggarai Timur bersaing di pasar global bahkan di pasar nasional. Untuk itu diperlukan kegiatan penyuluhan dan pendampingan dari instansi terkat baik dari proses pemanenan dan perlakuan pasca panen dalam menciptakan kualitas mutu yang optimal. Pemanenan kopi sangat dianjurkan secara petik merah sehingga kadar air rendah, kematangan optimal, meningkatkan rendemen dan cita rasa kopi bagus. Pemanenan buah kakao tidak boleh dilakukan dengan cara menarik buah karena tempat buah berpijak akan rusak sehingga di tempat itu tidak akan ada pembungaan pada masa yang akan datang. Untuk pengembangan pasca panen kakao diperlukan sortasi dan perlakuan fermentasi di tingkat petani. Proses fermentasi adalah titik kritis dalam penanganan pasca panen kakao karena pada proses ini terjadi pembentukan aroma dan warna yang sangat berpengaruh pada kualitas kakao, oleh karenanya harus dilakukan dengan baik dan benar. Kebanyakan petani tidak melakukan fermentasi kakao karena pedagang atau tengkulak yang tidak mau membedakan harga biji kakao fermentasi dan non fermentasi sehingga pemerintah daerah perlu membuat regulasi harga yang menguntungkan petani.

      Pengembangan pasca panen sebaiknya dengan pemberdayaan petani. Kelompok tani perlu diberi alat pengolahan ataupun diberikan fasilitas unit-unit pengolahan di sentra produksi serta pelatihan dalam mengoperasikan alat-alat tersebut. Pengembangan pasca panen kopi, kakao dan cengkeh membutuhkan kelengkapan peralatan seperti alat prosesing hasil pertanian sehingga petani menjual ketiga komoditas tersebut tidak hanya dalam bentuk mentah namun sudah setengah jadi. Untuk pasca panen kopi cara basah perlu diberikan berbagai mesin pengupas (pulper) tipe silinder; mesin pencuci tipe batch dan tipe kontinu. Untuk mendukung proses pasca panen komoditas kakao secara fermentasi diperlukan mesin pengupas kulit buah; bak fermentasi; mesin pengupas pulpa biji kakao; mesin pengering mekanis dengan bahan bakar kayu bakar dan minyak tanah atau tenaga surya; Sedangkan untuk pengolahan sekunder telah tersedia berbagai mesin untuk membuat permen cokelat dan cokelat bubuk diantaranya mesin penyangrai; pemisah kulit biji; kempa lemak kakao; pemasta kasar; pemasta halus; pencampur pasta cokelat, lemak, susu bubuk dan gula halus; penghalus bungkil cokelat; pengayak bubuk cokelat; mesin pencampur bubuk coklat halus, gula halus dan susu bubuk.

      Langkah terakhir dalam pengembangan komoditas unggulan di Kabupaten Manggarai Timur adalah membuat kemitraan antara petani dengan perusahaan. Pola kemitraan yang dapat dikembangkan yakni kemitraan pola non KSU (PIR-Lokal) atau bentuk kemitraan antara pengusaha sebagai inti dan usaha kecil sebagai plasma dengan prinsip kesetaraan adil, saling menguntungkan serta bersedia menerima risiko yang timbul. Kopi, kakao dan cengkeh yang dihasilkan oleh petani merupakan hasil dari penerapan SOP yang telah disusun bersama berdasarkan kebutuhan pengusaha sehingga produk yang dihasilkan diharapkan sesuai standar komoditas yang disepakati bersama. Mekanisme dari kemitraan meliputi aspek pemanfaatan teknologi dan menyediakan sarana produksi, membina petani, akses pasar dan sumber daya manusia pada perusahaan besar.

      Pengembangan kopi, kakao dan cengkeh di Manggarai Timur juga menghadapi persaingan dengan daerah lain misalnya dari Ende, Ngada, Nagekeo dan Sikka sehingga Manggarai Timur masih perlu melakukan berbagai langkah perbaikan.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Perkebunan Kabupaten Manggarai Rating: 5 Reviewed By: Kepulauan NTT