Latest News
Gambar tema oleh Kepulauan NTT. Diberdayakan oleh Blogger.
Minggu, 22 Oktober 2017

Perekonomian Kabupaten Nagekeo



pertumbuhan ekonomi Kabupaten Nagekeo dari tahun 2013-2016 terus mengalami peningkatan. Tahun 2013 mencapai 4,62 persen, tahun 2014 4,67 persen, tahun 2015 4,87 persen dan tahun 2016 mencapai 4,91 persen.

“Peningkatan ini didukung oleh adanya pertumbuhan disemua lapangan usaha. Lapangan usaha yang memiliki pertumbuhan paling tinggi adalah informasi dan komunikasi, yakni sebesar 10,88 persen. Sedangkan yang terendah adalah usaha industri pengolahan sebesar 2,76 persen,” ungkap Bupati Nagekeo, Elias Djo kepada wartawan di hotel Aston Kupang, Jumat (7/4).

Walau begitu, lapangan usaha ekonomi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tetap mengalami pertumbuhan yang positif dan sektor pertanian dalam empat tahun terakhir masih menjadi penyumbang terbesar dalam pembentukan PDRB Nagekeo.

Elias menyebutkan, penyumbang terbesar lainnya adalah sektor administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib. Sedangkan sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebagai penyumbang ketiga terbesar.

Dikatakan, pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Nagekeo terus mengalami peningkatan sejak tahun 2013 hingga tahun 2016. Bahkan, tahun 2014, IPM Nagekeo menempati urutan ke empat di Provinsi NTT, yakni berada di bawah Kota Kupang, Kabupaten Ende dan Kabupaten Ngada.

“Capaian IPM Nagekeo tahun 2014 mencapai 62,71 persen. Hal ini menunjukan bahwa tingkat pembangunan manusia di Nagekeo cukup baik di Provinsi NTT,” ungkapnya.

Menurut Elias, capaian pengurangan angka kemiskinan di Nagekeo merupakan dampak dari kebijakan pengembangan perumahan yang diperuntukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Berbagai indikator kemiskinan yang diukur berdasarkan kondisi perumahan menunjukan kemajuan yang signifikan, sehingga masyarakat dapat keluar dari kategori miskin.

Itu sebabnya, pada 4 April 2017 lalu, Kabupaten Nagekeo mendapat penghargaan dari Gubernur NTT, Frans Lebu Raya sebagai kabupaten dengan persentase penduduk miskin terendah kelima di NTT.

“Tahun 2016, Nagekeo dinyatakan sebagai kabupaten bebas dari masalah gizi buruk. Itu karena setiap tahun pemerintah terus berupaya menekan kasus gizi buruk yang sempat terekam di tahun 2013 hingga tahun 2015,” ungkapnya.

Dibeberkan, tahun 2013 ada 22 kasus gizi buruk, tahun 2014 sebanyak 17 kasus dan tahun 2015 terjadi sembilan kasus. Karena pemerintah memberikan perhatian serius, maka tahun 2016, Nagekeo benar-benar bebas dari kasus gizi buruk.

“Program Desa/Kelurahan Mandiri Anggur Merah melalui APBD I sudah digulirkan sejak tahun 2012 hingga tahun 2017. Tahun 2016 sebanyak 93 desa/kelurahan di Nagekeo mendapat alokasi anggaran progam Anggur Merah dan di tahun 2017 dialokasikan lagi untuk 20 desa/kelurahan. Sehingga total desa/kelurahan di Nagekeo mencapai 113 yang tersentuh program Anggur Merah,” urainya.

Dikatakan, Pemerintah Kabupaten Nagekeo melalui APBD II mengalokasikan anggaran melalui kegiatan to’o jogho wagha sama yang merupakan replikasi dari program Anggur Merah, guna percepatan peningatan kesejahteraan masyarakat yang dialokasikan bagi 12 desa/kelurahan.

Elias membeberkan, pengembangan jagung dilaksanakan melalui perluasan areal tanam dengan bantuan bajak gratis bagi masyarakat, penyediaan bibit unggul jagung serta penggiliran tanaman pada areal lahan irigasi teknis.

Sementara, pengembangan sektor peternakan dilaksanakan dalam rangka peningkatan populasi ternak yang dilaksanakan melalui pengadaan bibit ternak, pengembangan IB dan pengembangan sarana dan prasarana peternakan.

Menurutnya, peningkatan infrastuktur jalan dan jembatan terus dilaksanakan sejak tahun 2013 hingga tahun 2017. Terdapat 79 ruas jalan kabupaten dengan total panjang 925,603 km. Pada tahun 2014, panjang jalan kabupaten dalam kondisi baik sepanjang 207,39 (22,36 persen), namun pada tahun 2016 panjang jalan kabupaten dalam kondisi baik telah mencapai panjang 271,47 atau 29,33 persen.
Selain jalan kabupaten, pemerintah juga melaksanakan peningkatan jalan lingkungan guna menunjang aksesibilitas masyarakat dalam aktivitasnya.

“Penyediaan air bersih juga menjadi fokus perhatian pemerintah. Tahun 2013 jumlah rumah tangga yang mengakses atau menggunakan air bersih hanya sebanyak 20.400 KK. Tapi pada tahun 2016 telah meningkat menjadi 27.510 KK. Hal ini dicapai melalui optimalisasi peran BLUD-SPAM serta pelaksanaan program Pamsimas melalui dana APBN sejak tahun 2014 sebanyak enam desa per tahun serta sharing kegiatan melalui APBD II sebanyak enam desa setiap tahun,” ujarnya.

Elias menjelaskan, tahun 2016, Pemerintah Kabupaten Nagekeo melaksanakan sendiri kegiatan pengembangan jaringan air bersih sebanyak enam desa. Pemerintah juga telah melakukan upaya koordinasi dalam rangka pengembangan jaringan listrik bagi masyarakat di pedesaan. Upaya ini telah menunjukan hasil yang memuaskan, di mana terjadi peningkatan rasio elektrifikasi dari 52 persen pada tahun 2014 meningkat menjadi 71 persen pada tahun 2016.

Ia menjelaskan, pelaksanaan pembangunan yang dilakukan di Kabupaten Nagekeo memperoleh sejumlah prestasi yakni tahun 2014 Kabupaten Nagekeo menyabet juara I Zona 2 siaran radio terbaik dari Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Provinsi NTT, juara I fanitarian teladan tingkat Provinsi NTT, penghargaan dari BKN atas keberhasilan pelaksanaan seleksi CPNS tahun 2014 menggunakan metode CAT dan hasil evaluasi SAKIP tahun 2014 CC (50,31).

Prestasi yang diperoleh tahun 2015 antaranya Kabupaten Nagekeo mendapat penghargaan Pangripta Nusantara Juara III RKPD terbaik tahun 2015 kategori Konsistensi dan Inovasi Perencanaan, mendapat piagam penghargaan dari Kementerian Hukum dan HAM tentang Anubhawa Sasana Desa/Kelurahan kategori kriteria desa sadar hukum tahun an hasil evaluasi SAKIP 2015 CC (50,34).
Tahun 2016 Kabupaten Nagekeo memperoleh penghargaan berupa penghargaan Pangripta Nusantara Juara III RKPD terbaik tahun 2016 kategori Konsistensi dan Inovasi Perencanaan, juara I bulutangkis perorangan, juara II tenis meja dan juara III lari 1.000 meter pada O2SN SD tingkat Provinsi NTT, kabupaten tercepat dan pilot project di NTT dalam hal penerapan sistem pengelolaan keuangan desa berbasis aplikasi serta hasil evaluasi SAKIP 2016CC (56,18).

“Tahun 2017, Kabupaten Nagekeo memperoleh penghargaan Pangripta Nusantara Juara III RKPD terbaik kategori Konsistensi dan Inovasi Perencanaan, juara II koperasi terbaik program Desa Mandiri Anggur Merah, persentase penduduk miskin terendah di NTT dan juara III penyerapan dana terbaik program Desa Mandiri Anggur Merah,” beber Elias.
 
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Perekonomian Kabupaten Nagekeo Rating: 5 Reviewed By: Kepulauan NTT