Latest News
Gambar tema oleh Kepulauan NTT. Diberdayakan oleh Blogger.
Selasa, 23 Januari 2018

Sejarah Kabupaten Rote Ndao

Sejarah Rote Ndao
Pulau Rote memiliki banyak nama. Di dalam arsip pemerintahan Hindia Belanda, pulau ini ditulis dengan nama Rotti atau Rottij” kemudian menjadi “Roti”. Akan tetapi, masyarakat Rote yang mempunyai sembilan dialek dan seringkali mereka menyebut pulau ini “Lote”, khusus bagi mereka yang tidak bisa menyebut huruf “R”. Masyarakat Rote lainnya menyebut pulau ini dengan nama “Lolo Deo Do Tenu Hatu” yang artinya Pulau yang Gelap. Ada juga yang menyebut “Nes Do Male” yang artinya Pulau yang Layu/Kering (Otta, 1990:10) dan ada juga yang menyebut dengann “Lino Do Nes” yang berarti Pulau yang Sunyi (Naladay, 1988:14).

Sementara itu Soh (2008:1) mengutip sebuah buku berbahasa Belanda yang berjudul Land Taal & Volkenkunde Van Nederlands Indie (terbit Tahun 1854) dinyatakan bahwa pada + abad 3 sesudah penduduk mendiami Pulau Rote, di sebelah utara timur laut Pulau Rote muncul kapal-kapal Portugis sedang buang jangkar dan mereka turun ke darat karena membutuhkan air tawar untuk minum di kapal. Di pantai, mereka bertemu dengan seorang nelayan dan bertanya, “Pulau ini bentuknya bagaimana?” Nelayan ini menyangka bahwa mereka menanyakan namanya, nelayan ini menjawab, “Rote” (Rote is Mijn Naam). Nahkodah kapal Portugis ini menyangka bahwa bentuk pulau itu Rote, segera ia menamakan pulau itu Rote. Demikian seterusnya pulau ini disebut Rote. (Een Landschen School Messter, 1854-4).

Sayangnya, Soh tidak mengungkapkan secara lengkap sumber acuan pertama, karena itu apa yang dikemukakan oleh Soh dalam bukunya patut diragukan tingkat kebenarannya, kecuali Soh menyebutkan sumber acuannya secara lengkap, terutama sumber pertama yang menjelaskan tentang dialog antara nahkoda Portugis dan nelayan Rote, minimal ada nama dari kedua orang tersebut, tanggal kejadian bisa disebutkan. Lebih jauh, Fox (1996:25-26) mengatakan, dalam dokumen Portugis pada abad ke-16 dan ke-17 tercantum berbagai nama seperti “Rotes”, “Enda”. Di dalam peta Belanda, mula-mula pulau ini disebut “Rotthe”, yang oleh ahli peta kemudian dikutip secara salah menjadi “Rotto”. Namun, dalam salah satu peta pada awal abad tujuh belas, pulau ini disebut dengan nama pribumi “Noessa Dahena” (Nusa Dahena) yang berasal dari dialek Rote di bagian timur yang secara harafiah berarti “Pulau Manusia”. Kecuali dalam peta tersebut, nama itu tidak dipakai lagi. Pada pertengahan abad ke-17, Persatuan Dagang Hindia Belanda dalam dokumen-dokumennya menggunakan nama “Rotti” dengan tiga ejaan yang berbeda yaitu “Rotti”, “Rotty” dan “Rotij”. Sebutan resmi ini terus dipergunakan sampai pada abad ke-20 dan diubah menjadi “Roti.”

Selanjutnya Fox (1986, 1996) menguraikan, nama “Roti” adalah perubahan bahasa Melayu dari “Rote”, suatu perubahan yang menimbulkan suatu permainan kata yang tidak berarti dan sudah usang dari kata “Roti” yang kebetulan dalam bahasa Indonesia berarti ‘makanan yang dibuat dari tepung terigu’. “Rote” lebih sering digunakan dalam bahasa sehari-hari akan tetapi hal ini menimbulkan persoalan pula karena \r\ dan \l\ digunakan berganti-ganti di dalam sembilan bahasa daerah yang terdapat di Pulau Rote. Oleh karena itu, ada juga yang menyebut pulau ini “Lote”. Dalam dokumen resmi pemerintah yang berasal dari pulau ini menggunakan nama “Rote”, sedangkan sebagian besar dokumen-dokumen pemerintah pusat memakai nama “Roti”. Nama ini-lah yang digunakan dalam peta Indonesia pada umumnya maupun peta-peta dunia saat ini. Tetapi, orang Rotemaupun warga Nusa Tenggara Timur pada umumnya telah lama menggunakan nama “Pulau Rote” dan nama ini lebih populer dan familiar bagi warga Nusa Tenggara Timur. Nusa Lote le Malole.

Sejarah
Beberapa raja rote yang terekam dalam sejarah adalah raja Tou Dengga Lilo. Moyang Tou dengga Lilo berasal dari Bula Kay,
dengan urutan keturunan: Bula Kay memperanakan Loma Bula, Loma Bula memperanakan Ou Loma, Ou Loma memperanakan Kadau Ou,
Kadau Ou memperanakan Kasu Kadau, Kasu Kadau memperanakan Doitama Kasu, Doitama Kasu memperanakan TOU DENGGA LILO.
Sejarah Tou Dengga Lilo dinobatkan sebagai Raja Baa dan kekuasaannya meliputi Rote Baa pada zaman penjajahan portugal dan kolonial belanda.
Tou Dengga Lilo memperanakan Panie Tou Dengga, Panie Tou Dengga memperanakan 4 orang anak, yaitu: Dae Panie, Fola Panie, Foeh Panie dan Ndu Panie.

SEJARAH TERBENTUKNYA KABUPATEN ROTE NDAO
Kepulauan Rote, juga disebut Pulau Roti, adalah sebuah pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Rote merupakan wilayah paling selatan Indonesia.Pulau ini terkenal dengan kekhasan budidaya lontar, wisata alam pantai, musik sasando, dan topi adat Ti’i Langga. Rote beserta pulau-pulau kecil disekitarnya berstatus sebagai kabupaten dengan nama Kabupaten Rote Ndao melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2002.

Wilayah Rote Ndao semula adalah merupakan bagian dari Wilayah Pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat II Kupang yang dibentuk berdasarkan Undang – Undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah – Daerah Tingkat II dalam Wilayah Daerah – daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Tahun 1958 Nomor 122, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1655).

Selanjutnya sebagai pelaksanaan dari Undang – Undang tersebut, maka berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur masing-masing :
Nomor Pem.66/1/2, tanggal 28 Pebruari 1962 dan Nomor Pem.66/1/22, tanggal 5 Juni 1962, maka wilayah Rote Ndao dibagi menjadi 3 (tiga) wilayah Pemerintahan Kecamatan yaitu : Kecamatan Rote Timur dengan pusat Pemerintahan di Eahun
Kecamatan Rote Tengah dengan pusat Pemerintahan di Baa – Kecamatan Rote Barat dengan pusat Pemerintahan di Oelaba.

Kemudian pada tahun 1963 sesuai dengan tingkat perkembangan yang ada, maka berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur Nomor Pem.66/1/32, tanggal 20 Juli 1963 tentang Pemekaran Kecamatan maka Wilayah Pemerintahan yang berada di Rote Ndao dimekarkan menjadi 4 (empat) Wilayah Kecamatan yaitu :
Kecamatan Rote Timur beribu kota di Eahun
Kecamatan Rote Tengah beribu kota di Baa
Kecamatan Rote Barat beribu kota di Busalangga
Kecamatan Rote Selatan beribu kota di Batutua
Selanjutnya setelah berjalan 4 (empat) tahun lamanya, maka terjadilah pemekaran wilayah di Rote Ndao menjadi 8 (Delapan) Kecamatan, sehubungan dengan adanya keinginan masyarakat untuk membentuk Kabupaten Otonom bagi Rote Ndao maka untuk untuk memenuhi persyaratan yang dibutuhkan yaitu satu Daerah Kabupaten paling sedikit harus didukung oleh 6 (enam) buah Kecamatan Administratif, maka 4 (empat) Kecamatan yang telah ada di Pulau Rote Ndao dibagi menjadi 8 (Delapan) Kecamatan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Tingkat I Nusa Tenggara Timur Nomor Pem.66/1/44 tanggal 1 Juli 1967 dan Keputusan Nomor Pem.66/2/71, tanggal 17 Juli 

1967 yakni :
Kecamatan Rote Timur dengan pusat Pemerintahan di Eahun
Kecamatan Pantai Baru dengan pusat Pemerintahan di Olafulihaa
Kecamatan Rote Tengah dengan pusat Pemerintahan di Feapopi
Kecamatan Lobalain dengan pusat Pemerintahan di Baa
Kecamatan Rote Barat Laut dengan pusat Pemerintahan di Busalangga
Kecamatan Rote Barat Daya dengan pusat Pemerintahan di Batutua.
Kecamatan Rote Selatan dengan pusat Pemerintahan di Daleholu.
Kecamatan Rote Barat dengan pusat Pemerintahan di Nemberala.
Berhubung situasi keuangan Negara tidak memungkinkan sehingga pembentukan Kabupaten Otonom Rote Ndao belum dapat dilakukan, maka sebagai jalan keluar untuk memenuhi tuntutan keinginan masyarakat, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur mengeluarkan Surat Keputusan Nomor Pem.66/2/4, tanggal 11 April 1968 agar wilayah Rote Ndao dibentuk sebagai Wilayah Koordinator Schap dalam wilayah hukum Kabupaten Daerah Tingkat II Kupang dan menunjuk Bapak D.C. Saudale, sebagai Bupati di perbantukan di Wilayah Koordinator Schap Rote Ndao dengan Keputusan Guberur Tingkat I Nusa Tenggara Timur Nomor Pem. 66/2/21, tanggal 1 Juli 1968.

Sesuai perkembangan di bidang pemerintahan, maka pada tahun 1979 terjadi perubahan status Wilayah Koordinator Schap Rote Ndao menjadi wilayah pembantu Bupati Kupang untuk Rote Ndao, berdasarkan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur Nomor 25 tahun 1979 tanggal 15 Maret 1979, tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kantor Pembantu Bupati Kupang untuk Rote Ndao, yang telah disahkan pula oleh Menteri Dalam Negeri dengan Keputusan Menteri Dalam Nomor 061.341.63-114 tertanggal 8 April 1980.

Adapun para pejabat yang memimpin di Wilayah Koordinator Schap Rote Ndao maupun di Wilayah Pembantu Bupati Kupang untuk Rote Ndao adalah sebagai berikut :
Periode 1968-1974 adalah D. C. Saudale – Koordinator Schap Rote Ndao
Periode 1974-1977 adalah DRS. R. Chandra Hasyim – Koordinator Schap Rote Ndao
Periode 1977-1984 adalah DRS. G. Th. Hermanus – Pembantu Bupati Kupang Wilayah Rote Ndao
Periode 1984 – 1988 adalah DRS. G. Bait – Pembantu Bupati Kupang Wilayah Rote Ndao.
Periode 1988 – 1994 adalah Drs. R. Izaac – Pembantu Bupati Kupang Wilayah Rote Ndao.
Periode 1994 – 2001 adalah Benyamin Messakh, BA – Pembantu Bupati Kupang Wilayah Rote Ndao
Periode 2003 – 2008 adalah Christian Nehemia Dillak, SH – Bupati Rote Ndao dan Bernad E. Pelle, S.IP – Wakil Bupati Rote Ndao
Periode 2009 – 2014 adalah Drs. Leonard Haning, MM – Bupati Rote Ndao dan Drs. Marthen Luther Saek -Wakil Bupati Rote Ndao
Periode 2014 – 2019 adalah Drs. Leonard Haning, MM – Bupati Rote Ndao dan Jonas Cornelius Lun, S.Pd

Sesuai perkembangan dan dinamika masyarakat maka dalam tahun 2000 timbulnya keinginan kuat dari masyarakat Rote Ndao baik yang berada di Wilayah Pembantu Bupati Kupang Wilayah Rote Ndao maupun dukungan dari orang Rote yang berada di Kupang dan di Jakarta mengusulkan agar Wilayah Pemerintahan Pembantu Bupati Rote Ndao ditingkatkan menjadi Kabupaten definitif. Usulan tersebut didukung dengan adanya pernyataan sikap dari 300 Tokoh masyarakat, Tokoh adat mewakili masyarakat dari 19 Nusak kepada Pemerintah Pusat dalam hal ini Menteri Dalam Negeri, melalui Pemerintah Kabupaten Kupang (sebagai Kabupaten Induk).
Atas dasar usulan tersebut maka setelah melalui pengkajian dan mekanisme pembahasan sesuai Peraturan Perundang – undangan yang berlaku maka pada tanggal 10 April 2002 oleh Pemerintah Pusat dan DPR – RI menetapkan Undang – Undang Nomor 9 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Rote Ndao di Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Landu Affair 1756
Mengapa Nusak Landu Jarang Penduduknya Pertemuan para manek Rote tahun 1930-an. Dari kiri ke kanan: Thobias Malelak dari Keka (ketiga dari kiri, meninggal 1966), Christian Paul Manubulu dari Korbafo (keempat, 1926-1989), DL Detaq dari Baa (kelima, meninggal 1938), tidak diketahui (keenam), Yusuf William Johannis dari Landu (ketujuh, 1916-1961). Matheos Yusuf William Johannis ini adalah keturuan dari raja-raja Landu yang terlibat pertikaian di tahun 1756 yang berakhir dengan pembantaian oleh VOC. [sumber: dipersembahkan oelh Middelkoop kepada KITLV]—Oleh Matheos Messak.

DALAM pertarungan politik kontemporer di pulau Rote, negeri (Nusak) Landu jarang diperhitungkan karena walaupun wilayahnya cukup luas namun jumlah penduduknya jauh lebih sedikit dibanding nusak-nusak lain di Rote. Pengabaian politis ini menjadi lebih kuat terutama ketika demokrasi elektoral era Reformasi bertemu dengan kharakterisitik pemilih yang masih sangat primordialis. Nusak-nusak yang berjumlah penduduk besar selalu menjadi lirikan politisi dan orang-orang dari nusak berjumlh penduduk besar selalu mempunyai peluang lebih besar dalam politik seperti dipilih menjadi Bupati Rote-Ndao atau menjadi anggota DPR.[1] Paling kurang nusak-nusak dengan jumlah penduduk lebih besar seperti Thie dan Dengka menjadi lahan garapan para politisi yang mau mendulang suara. Kurangnya jumlah penduduk ini juga mempengaruhi pilihan ekologis dan pertanian di negeri yang berada paling ujung timur pulau Rote dan paling dekat dengan pulau Timor ini. Perbedaan pola pertanian dan peternakan ini dibahas oleh James Fox dalam Harvest of the Palm: Ecological Change in Eastern Indonesia. (1977).

Namun, jangan dikira populasi pulau Rote bagian timur, terutama Landu yang sedikit karena persoalan ekologi dan migrasi semata. Jangan dikira karena Landu dekat dengan Kupang, jadi sebagian besar orang-orangnya bermigrasi ke Kupang dan sekitarnya. Ada peristiwa sejarah yang cukup signifikan yang telah membuat Landu menjadi nusak dengan penduduk paling sedikit di Rote dan kemudian hal itu berpengaruh pada pola pertanian dan peternakan di Rote bagian timur. Landu termasuk diantara nusak yang paling awal membuat perjanjian kerja sama dengan VOC yaitu pada tahun 1653.[2] Pada saat itu Landu adalah negeri paling padat di Rote. Pada tahun 1750 populasinya diperkirakan 4,000 atau 23 orang per kilometer persegi. Namun pada tahun 1756 telah terjadi sebuah peristiwa yang menjadikan Landu daerah tak bertuan.

Menurut laporan Komisaris VOC, Johannes Andreas Paravicini, telah terjadi sebuah pertikaian di Lando yang sebenarnya sudah terjadi lama antara pejabat sementara ‘regent’[3] dan putera almarhum regent. [4] Ini terjadi karena suadara dari mantan bupati/regent yang menjadi pejabat sementara tidak mau menyerahkan jabatannya kepada putera sang regent ketika sang putra sudah akil balik.
Peta Onderafdeeling Rote yang dibuat tahun 1910. Nampak nusak Landu di bagian paling timur pulau Rote hampir merupakan bagian yang terpisah sendiri. [sumber: KITLV] Masing-masing pihak bersihkeras mempertahankan kebenarannya. Kedua kelompok ini masing-masing dipimpin oleh dua orang ‘temukung’.[5] Mereka mengutus seorang bernama Nai Laffa ke Kupang untuk bertemu opperhoofd atau kepala pemerintahan VOC di Kupang. Namun menurut Paravicini, sang opperhoofd yang penakut ini [baca juga: Korupsi Pejabat VOC di Kupang tahun 1750-an] tidak mampu menyelesaikan masalah ini dan hanya menjanjikan bahwa keadaan akan menjadi lebih baik. Ia menyuruh Nai Laffa kembali ke Rote, maka meletuslah pemberontakan di Landu.

Komisaris VOC Paravicini yang kebetulan berada di Kupang menangani kasus ini. Ia mengadakan sebuah pertemuan besar di mana semua pemimpin pribumi dihadirkan. Dalam siding itu terbukti bahwa pejabat sementara regent dan putranya memerintah dengan sangat jelek. Mereka banyak melakukan hal-hal yang tidak baik. Paravicini menyuruh menangkap mereka dan dibuang ke Batavia.
Sesudah pertemuan itu, Paravicini menjanjikan perlindungan VOC seumur hidup kepada pewaris tahta yang bernama Bani[6] itu apabila ia melepaskan diri dari pengaruh para temukung yang nota bene menentang kepentingan VOC.

“Putra mahkota” itu tidak sepenuhnya mempercayai janji Paravicini. Karena itu tanpa alasan yang jelas ia melarikan diri kembali ke Landu dan berusaha untuk berdamai dengan pihak yang semula melawannya. Hal ini tidak diterima baik oleh Paravicini. Dikirimlah kapal De Vrijheid(Kebebasan/Kemerdekaan) dibawah pimpinan Ringholm dan Wegener bersama 50 tentara Eropa, 50 orang Bali dan juga orang-orang Sabu, Rote dan Solor untuk ‘menggasak dan menghancurkan Landu sekali dan untuk selamanya, untuk menangkap setiap orang sebagai tawanan perang, dan tidak membiarkan seorangpun berkeliaran.’ [7] Penumpasan ini dimaksudkan agar Landu kemudian dibagikan-bagikan kepada orang Rote yang bersekutu dengan VOC dan juga menjadi peringatan agar penduduk pulau Rote yang lain tidak mengikuti cara Landu.

Dalam pertempuran antara pasukan VOC dan penduduk Landu, para penduduk melarikan diri dan berlindung di sebuah benteng yang terletak satu jam perjalanan dari ‘kampong Lando’[8]. Setelah melalui perlawanan sengit dan berlangsung kira-kira empat jam orang-orang Landu akhirnya kalah. Mereka lari meninggalkan benteng itu dan bertahan di tebing-tebing serta gua-gua.[9] Banyak yang berhasil melarikan diri tetapi lebih dari 100 orang laki-laki, perempuan dan anak-anak membunuh dirinya dan juga dibunuh. Tidak saja penduduk Landu tetapi penduduk di kampong sekitar yang terletak dua sampai lima jam jauhnya juga dirusakkan.

Mereka yang mengungsi terdiri lebih dari 1400 orang. Mereka memanjat tebing-tebing dan batu-batu karang. Mereka mencoba bertahan di gua-gua dan batu-batu karang namun karena kelaparan akhirnya mereka menyerahkan diri. Interior dari sebuah rumah Manek Matheos Yoesoef Johannis (kiri) dari Landu, di Rote sekitar tahun 1925. [sumber:KITLV] 

Tak lama kemudian ada utusan dari Landu menuju Kupang untuk bertemu Paravicini. Kepadanya dibawakan sebuah kalung emas untuk memohon maaf, namun sang Komisaris menolak pemberian tersebut. Mereka berkata bahwa mereka tidak menentang ‘Kompeni’[10] tetapi menentang seorang penindas yang memeras mereka dengan cara berlebihan. Paravicini menjawab bahwa suatu bangsa yang telah melawan Kompeni harus dihukum sebagai pemberontak. Namun sebagai akibat dari segala penderitaan yang dialami dan sebagai tanda belas kasihan terhadap para perempuan dan anak-anak yang menjadi korban, mereka diberikan pengampunan dengan syarat bahwa segala senjata diserahkan dan para penduduk wajib menyerahkan diri dan dikirimkan ke Kupang. Rupanya pesan Paravicini ini hanya tipu muslihat saja. Ketika para pembawa pesan kembali ke Landu, penduduk yang masih tersisa menerima pesan itu dan dengan sukarela mereka berlayar ke Kupang dalam keadaan lapar yang luar biasa. “Sangat menyedihkan melihat anak-anak kecil yang menderita kelaparan. Setibanya di Kupang, mereka dijadikan budak.

Budak-budak itu dibagi-bagi diantara mereka yang terlibat dalam penyerangan, termasuk pegawai VOC dan para prajurit. Menurut laporan J.A. van der Chrijs, sang Komisaris mendapat 300 orang sebagai budaknya sendiri dan 1,145 laki-laki, perempuan dan anak-anak dikirim ke Batavia demi keuntungan VOC.

[11] Demikianlah Landu yang jumlah penduduknya pada tahun 1756 berjumlah sekitar 4000 orang itu berakhir dengan menyedihkan. Paravicini sendiri khawatir bahwa caranya menangani masalah ini sangat keras dan kejam karena itu ia berusaha untuk membela tindakannya. Dalam sebuah pertemuan beberapa hari kemudian antara Paravicini dan para penguasa Rote dan Sabu, ia memerintahkan agar kampung-kampung yang sudah dirusak direhabilitasi dan penduduk Landu yang terserak ke seluruh Rote dikumpulkan kembali. Pangeran Bani kembali memerintah dan para terpenjara dikirim ke Batavia.

Di Batavia, Pemerintah Tertinggi Hindia Belanda (Gubernur Jendral dan Dewan) meneliti tindakan Paravicini dan menemukan bahwa ia telah sangat merugikan Negara-negara Eropa lain dalam kontrak-kontrak yang ia buat, dengan menggunakan terminologi-terminologi yang sama sekali tidak layak untuk sebuah dokumen diplomatik. Mereka juga mengkritisi pembantaian di Landu, namun di bulan Mei 1757, sebanyak 777 tawanan dari Landu dijual ke pasar budak dan menghasilkan sebanyak 50.012 guilders.[12] 

Pertanyaannya sekarang, mungkinkah bisa ditelusuri di mana orang-orang itu ditempatkan datau diperjualbelikan sebagai budak dan di manakah keturunan mereka sekarang? Ilmu genetika modern mungkin bisa membantu menemukan keturunan orang-orang Landu yang diperjualbelikan sebagai budak di Batavia berabad lalu. Itulah cerita mengapa nusak Landu jarang penduduknya hingga kini. [S] 

Catatan akhir:
[1] Kurangnya jumlah penduduk ini menyebabkan nusak ini harus digabung dengan nusak lain untuk dapat menjadi sebuah kecamatan. Saat terjadi perubahan ketatanegaraan pada tahun 1962, berdasarkan Surat Keputusan Gubernur NTT No Pem. 66/1/2 tanggal 28 Januari 1962 dan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I NTT No. Pem 66/1/3 tanggal 5 Juni 1962, wilayah Nusak Landu digabungkan dengan Nusak Ringgou, Oepao, Bilba, Diu, dan Korbaffo ditetapkan menjadi Kecamatan Rote Timur dengan ibukota Kecamatan di E’ahun. Lihat Benjamin Messakh, Sejarah Rote-Ndao, belum dipublikasikan.

[2] Penguasa nusak Landu mulai mengadakan hubungan poitik dengan VOC di Kupang pada tahun 1653. Pada tahun itu empat Raja dari Rote bagian Timur yaitu Landu, Ringgou,Oepao dan Bilba bersumpah setia kepada Kompeni di Kupang yang bernama Ter Horst dan pada tahun berikutnya 1654 Terhorst memimpin suatu ekspedisi bersenjata ke Rote untuk memperkuat sekutunya terhadap musuh mereka. Ekspedisi ini menghancurkan Kejaan Korbaffo yang diisukan bersekutu dengan Portugis. Walaupun Nusak Landu telah mengadan hubungan politik dengan para petugas VOC di Kupang tahun 1653 namun penguasa nusak Landu baru menandatangani kontrak pendek (Korte Verklaring) dengan penguasa VOC pada tahun 1690. Menurut Benjamin Messakh, dari beberapa silsilah lisan para manek serta beberapa dokumen resmi VOC diperkirakan bahwa Manek Landu yang mengadakan hubungan politik pada tahun 1653 bernama Bane Dai Lafa sedangakan Manek Landu yang menandatangani kontrak politik 1690 bernama Ba Bane. Lihat Benjamin Messakh, Sejarah Rote-Ndao, belum diterbitkan; Hans Hagerdal, Lords of the Land, Lords of the Sea: Conflict and Adaptation in 1600-1800. Leiden: KITLV Press, 2012, hal. 221.

[3] Ada bermacam-macam istilah yang digunakan dalam dokumen-dokumen VOC untuk para pemimpin lokal. Lebih sering digunakan istilah yang diambil dari Jawa yang mempunyai pengaruh India yang kuat seperti, ‘raja’, kadang digunakan ‘bupati’, kadang pula digunakan ‘regent’. Pengaruh sebutan ini masih kuat sampai sekarang terutama istilah ‘raja’ yang sering digunakan tanpa memikirkan maknanya. Demi kepentingan konsistensi definisi dan isi kami mengajurkan sebaiknya dipakai istilah sesuai sebutan penduduk lokal, misalnya di Rote digunakan istilah ‘manek’ tanpa harus diterjemahkan atau di Timor digunakan istilah ‘usif’.

[4] J. A. van der Chijs ‘Koepang omstreeks 1750’ (1872) Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en volkenkunde 18, hal. 209-27.

[5] Istilah ‘temukung’ sendiri telah dianggap sebagai sebutan asli orang Rote namun sebenarnya istilah ini berasal dari Bahasa Jawa ‘Tumenggung.’

[6] Sejahrawan Rote Benjamin Messakh berhasil mengumpulkan silsilah dinasti nusak Landu berdasarkan tuturan lisan orang Landu dan beberapa dokumen VOC, Pemerintah Hindia Belanda dan Repuplik Indonesia sebagai berikut: Meno Balo Balokama Meno Keolima Balokama (1550-1574) Bane Keolima (1574-1594) Sura Bane (1595-1613) Dailafa Sura (1613-1670) Bane Dailafa (1670-1690) Ba Bane/Paulus Johannis (1690-1697) Lete Ba/Soleman Johannis (1697-1725) Dailafa lete/Abraham Johannis (1725-1745) Keo Lima Ba/Christofel Johannis (1745-1778) Lete Ba/ Willem Johannis (1778-1804) Tetelai Ba/ Johanis Willem Johannis (1804-1832) Dale Lete/Jusuf Willem Johannis (1832-1859) Daud Willem Johannis (1859-1885) Yusuf Willem Johannis (1885-1912) Lasarus Yusuf Willem Johannis (1912-1923) Matheos Yusuf Willem Johannis (1923-1959) Marthen Matheos Johannis (1959-1972) Jika dilihat dari kemiripan nama dan memperhitungkan tahun kejadian, kemungkinan utusan yang dikirim ke Kupang yang disebut ‘Nai Laffa’ adalah Dailaffa Lete atau Abbraham Johanis yang berkuasa dari 1725-1745. Namun agak sulit dipastikan siapakah pewaris tahta yang bernama ‘Bani’ karena ada sejumlah penguasa sebelumnya bernama “Bane”. Kemungkina ‘Bani’ yang dimaksud dalam laporan Paravicini yang dikutip Van der Chijs adalah anak dari salah satu ‘Bane’ yang berkuasa sebelumnya. Hal ini sangat mungkin mengingat pemberian nama orang Rote sebelum orang Rote menggunakan nama Kristen adalah nama depan ayah menjadi nama belakang anak. Jadi kemungkinan ‘Bani’ yang dimaksud adalah anak dari Bane Dailafa ( memerintah 1670-1690) atau Ba Bane/Paulus Johannis (memerintah 1690-1697).

[7] van der Chrijs, 1872:222

[8] Definisi ‘Kampong Lando’ di sini terlalu luas sebab Landu mempunyai sejumlah kampong. Kemungkinan besar yang dimaksud ‘kampong Lando’ adalah pusat pemerintahan di mana pemimpin seluruh nusak ini berada. Ini bisa saja Daeurandale atau Oendui.
[9] Topografi Landu memang mempunyai banyak tebing, jurang dan gua. Apabila orang Rote berbicara dalam bahasa syair maka mereka menyebut nusak Landu dengan Pia heu do faka ndoro dan Soti mori do bola tena. Pia heu do faka ndoro berasal dari kata Piak yang berarti tebing, heu berarti pagar, faka berasal dari kata fakak artinya jurang, Ndoro berarti keliling, jadi secara harafiah berarti ‘Negeri yang dipagari tebing dan dikelilingi jurang.’ Lihat Benjamin Messakh, Sejarah Rote-Ndao, belum diterbitkan.

[10] Sebutkan lazim pribumi terhadap VOC.

[11] Van der Chijs 1872:220-6; Menurut dokumen VOC yang dikutip Hagerdal (VOC 2941 (1756), ff. 603-4, 627-8, 674, 677, 715-46), jumlah orang Landu yang dikirim sebagai budak ke Batavia berjumlah 1.060 orang. [12] Hagerdal, Lords of the Land, hal. 381 mengutip Leupe 1877; s’Jacob 2007:527.


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Sejarah Kabupaten Rote Ndao Rating: 5 Reviewed By: Kepulauan NTT